Tuesday, March 11, 2014

Sneak Peek: Common Grounds




Words & Photos: Edwin Pangestu 

The Sneak Peek
“Apa kabar bro! Ini Aston dari Pandava Coffee. Gw baru buka cafe baru di Citiwalk called Common Grounds. Kapan ada waktu aku ajak ngopi?”

Itulah isi email Aston Utan kepada saya pada 3 Maret 2014 lalu. Tentu saja, sebagai sesama klan pria brewok, saya tidak mungkin menolak ajakan Aston, apalagi ajakan ngopi. Justru saya merasa tersanjung bisa menjadi satu dari sedikit blogger yang bisa mengintip tempat baru ini.

Entah mengapa, pada awal masuk saya merasa atmosfer Common Grounds tidak seperti coffee shop Indonesia. Tidak lama kemudian saya mendapat jawabannya: interior coffee shop ini sengaja dibuat menyerupai stasiun subway, sesuatu yang belum ada di Indonesia.

Aston berkata bahwa ia memang sengaja membuat sebuah coffee shop yang lebih bernuansa barat. Tampaknya, semakin dewasa level kompromi Aston dalam hal idealisme semakin berkurang, ini merupakan kabar baik, paling tidak buat saya.

Di setiap kunjungan pertama ke sebuah coffee shop, espresso akan selalu menjadi kopi pertama yang saya pesan, meski belakangan saya semakin mengapresiasi kopi manual brew. Bagi saya, peran espresso sama halnya dengan Pizza Margherita di restoran Italia. Inilah menu paling sederhana yang menjadi dasar bagi hampir semua menu lain. Seperti kata pepatah, “the most simple thing is the hardest to cheat”.

Aston membuatkan sendiri espresso menggunakan biji kopi house blend yang terdiri dari Ethiopia Yirgacheffe, Aceh, dan Toraja untuk saya melalui mesin kopi Slayernya. Mungkin saya tidak mengerti banyak mengenai mesin kopi, namun saya sudah terbiasa dengan krema tebal yang menjadi ciri khas Slayer. Maklum, dulu saya sering ngopi di Tanamera Coffee, yang juga menggunakan Slayer, karena letak kantor lama saya persis di sebelahnya. Akibatnya, sekarang saya malah sering mengeluh jika krema pada espresso saya kurang tebal.


The Espresso Tasting
Kesan pertama saya adalah, house blend ini memiliki rasa yang lebih acid, bright dan fruity jika dibandingkan dengan house blend Pandava atau pun house blend coffee shop lain. Mungkin ini merupakan bentuk lain dari idealisme Aston soal rasa, karena seperti yang kita ketahui, orang Indonesia kebanyakan lebih menyukai kopi dengan rasa manis dan pahit. Sekali lagi, ini merupakan kabar baik bagi saya  yang menyukai kopi dengan acidity tinggi.

Aston meminta saya mencoba espresso kedua dengan biji kopi yang sama, metode brewing yang sama, hanya saja ia menggunakan grinder yang berbeda. Menurutnya, grinder baru buatan Jerman ini (saya lupa nama merknya) mampu menghasilkan bubuk kopi yang lebih konsisten dan lebih seragam ukurannya. Dari penampilan dan aroma, gelas kedua ini tidak berbeda dari gelas pertama. Namun begitu saya mencicipinya, saya bisa merasakan bedanya. Espresso kedua ini memiliki rasa yang sedikit lebih manis, body yang sedikit lebih tipis sekaligus aftertaste yang lebih clean. Saya lebih menyukai yang kedua!

Kemudian saya iseng menyisakan sedikit espresso di kedua gelas tersebut dan membiarkannya beberapa saat untuk mengetahui pengaruh perubahan suhu terhadap rasa. Setelah agak dingin, ternyata rasa acidnya menjadi begitu menonjol, agak berlebihan malah. Jadi, saya sarankan Anda untuk menghabiskannya tidak lebih dari 5 menit setelah kopi disajikan di depan Anda untuk mendapatkan rasa terbaik

Aston juga menyajikan segelas latte untuk saya coba. Meski bukan penggemar latte, rasa manis alami dari susu ini merupakan variasi yang menyenangkan di tengah serbuan rasa acid espresso.

Kejutan berikutnya datang dari menu yang konon akan menjadi andalan Common Grounds, Truffle Scrambled Eggs. Begitu disajikan bau harum dari truffle oil begitu menyita perhatian. Saya jadi teringat salah satu episode Masterchef USA dimana Gordon Ramsay menyebut truffle oil sebagai “one of the most pungent, ridiculous ingredients ever known to chef.”

Mungkin di kalangan chef ternama, penggunaan bahan ini kurang populer karena sebagian besar truffle oil dibuat dari parfum. Dan saya juga kurang paham jenis truffle oil macam apa yang digunakan di Common Grounds. Namun, bagi saya yang jarang mengkonsumsi truffle sungguhan, menu ini fantastis! 

Menu sederhana yang terdiri dari Norwegian smoked salmon, onion, dan baguette ini terangkat ke level yang lebih tinggi karena penggunaan truffle oil. Jika Anda adalah pemilik resto, Anda tahu makanan Anda enak ketika orang lupa menggunakan condiment yang disajikan.

Mungkin agak terburu-buru jika saya memberikan penilaian terhadap Common Grounds yang belum melakukan grand launching. Saya bahkan belum sempat mencicipi kopi manual brewnya. Tapi sejauh ini, saya menikmati idealisme Aston cs yang semakin kuat. Sekarang pertanyaannya adalah, apakah orang lain bisa menikmatinya seperti saya?



The Sneak Peek
“How are you bro! It’s Aston from Pandava Coffee. I just opened a new cafe in Citiwalk called Common Grounds. Do you have the time to drop by for some cups of coffee?”

That’s the email sent by Aston Utan to me on March 3rd 2014. Of course, as someone who belongs to the same bearded men clan, I won’t turn down his offer, especially when coffee is involved. To be honest, I’m quite honored to be one of the selected people that are offered the sneak peek of his latest store.

For some reasons, when I entered, I felt that the atmosfer of  the place is unlike any other coffee shops in Indonesia. Before too long, I got the answer: the interior of the coffee shop is inspired by subway station, something that doesn’t exist yet in Indonesia.

Aston said that he deliberately designed a coffee shop with more western aspects. It seems that, as he grows up, his ability to compromise, in term of idealism, is declining. And for me, that’s a good news.


On my first visit to a coffee shop, espresso will be at the top of my list, even though lately I began to be more attached to manual brewed coffee. To me, espresso is the same as Margherita Pizza in Italian restaurant. It’s the most simple menu that act as base for the other espresso-based coffee.  As the saying goes, “the most simple thing is the hardest to cheat.”

Aston himself brewed me the espresso made of the coffee shop’s house blend that consisted of Ethiopia Yirgacheffe, Aceh and Toraja, using the coffee machine Slayer. I may not know much about coffee machine, but I’m already used to the thick crema that has become the signature of Slayer. Well, you know, I often drank coffee in Tanamera, which also uses Slayer, my previous office is right beside that coffee shop. As a result, I found myslef complaining if I get thin cream on my espresso.

The Espresso Tasting
My first impression is, the house blend has more acidity, brightness, and fruitiness compared to Pandava’s house blend, or any other house blends. Perhaps it is another form of Aston idealism of taste, because as we know, most Indonesians prefer coffee with more pronounced sweetness and bitterness. Once again, it is good news to me who also happens to love high acidity.

Aston asked me to taste the second espresso using the very same bean, brewing method, but he used different grinder. According to him, the new German grinder (I forgot the brand name) is able to produce more consistent particle of ground coffee. From the appearance and aroma, I didn’t find much difference. But when I sipped it, I know what he was talking about. The second espresso has slightly sweeter flavor, lower body, and also cleaner aftertaste. I prefer the second one!

I tried to save some espresso in both cups and let them cool down for some time to know how the temperature affected the taste. After they’re a bit colder, I got more pronounced acidity, a bit overbearing I guess. So, I recommend you to finish your espresso not longer than 5 minutes after served to get the best result

Aston also gave me a cup of latte. I’m not a big fan of latte, but I found that natural sweetness from the milk was a refreshing variation in the middle of the espresso’s heavy acidity. 


The next surprise came from the menu that will soon be the favorite in Common Grounds, Truffle Scrambled Eggs. As it was served, the smell of the truffle oil grabbed my attention. It reminded me of one of the episodes of Masterchef USA where Gordon Ramsay called truffle oil as “one of the most pungent, ridiculous ingredients ever known to chef.”

Perhaps, for any top chefs, the use of this ingredient is a bit notorious because it was mostly made from perfume. I also don’t know which truffle oil did they use there, a real one, or the perfume. However, for someone who rarely eat real truffle, this menu was fantastic! 

The simple menu which consists of Norwegian smoked salmon, onion, and baguette is elevated into a whole new level because of this truffle oil. If you’re a restaurant owner, you know your food is good when people forget to use the condiments.


It’s a bit premature for me to give any judgement to Common Grounds as it didn’t have its grand lauching. I even haven’t go the chance to try their manual brewed coffee. But so far, I enjoy Aston co idealism that grew stronger. Now the question is, will other people enjoy it as much as I do? 

Common Grounds
City Walk, Ground Floor
Jl. KH Mas Mansyur no. 121
Jakarta Pusat

No comments:

Post a Comment